JAKARTA– Pemerintah menegaskan tidak akan menunda atau menghentikan pemberian tunjangan profesi guru dan dosen dan akan mempercepat penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) dan Peraturan Presiden (Perpres) mengenai tunjangan profesi ini.

| Medali Emas Bagi Pendidikan Terintegrasi |
|
|
|
| Written by Depdiknas | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Sunday, 15 March 2009 02:20 | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Satu hal yang patut dibanggakan negeri ini adalah memiliki siswa-siswi yang mampu mengharumkan citra bangsa di mata dunia. Lewat berbagai ajang kompetisi berskala internasional, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional berhasil membuktikan bahwa negeri ini banyak sekali menyimpan potensi berbakat. Tiap tahun Indonesia berhasil meningkatkan prestasinya meraih medali di pelbagai ajang kompetisi dunia. Pada 2008 saja, total medali yang dipersembahkan anak negeri adalah 74 emas, 68 perak, dan 86 perunggu. Mengungguli sejumlah negara maju di Asia seperti Jepang, Singapura, Malaysia, dan China. Kesuksesan ini tidak lepas dari peran dan kerja keras pemerintah dalam hal ini Depdiknas mulai dari rekrutmen peserta hingga pembinaan terhadap siswa terpillih. Rekrutmen berupa penyaringan terhadap siswa pintar, mulai dari tingkat kabupaten hingga provinsi, dan berujung pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) yang digelar tiap tahun. Seleksinya sangat ketat. Setelah menjalani berbagai proses seleksi yang sangat ketat, sejumlah siswa dikarantina, dibimbing, dan diberi pengarahan. Tak hanya pendalaman materi. Mereka juga dibekali ilmu lain yang dapat menunjang mereka dalam proses pembelajaran. Sepertinya, memang, dari segi Sumber Daya Manusia, upaya rekrutmen tak banyak menghadapi kendala. Jumlah pelajar negeri ini sangat banyak. Peluang untuk mendapatkan calon siswa yang pintar pun lebih besar. Namun, persoalan lain yang kemudian mulai terpecahkan yakni pemberian kesempatan pada siswa-siswi “minor”. Siswa-siswi yang pintar dan cerdas namun karena keterbatasan fasilitas sekolah dan kondisi ekonomi keluarga tak mampu bersaing dengan siswa lain. Maka dikembangkanlah—dan sudah dijalankan—pola rekrutmen yang dinamakan Jalur B-Jalur C. Ini rekrutmen “jemput bola” yang menjaring siswa-siswi pintar di sekolah tapi tidak terakomodasi dalam OSN. Siswa yang terjaring lewat jalur ini mendapatkan perlakuan yang sama dengan peserta OSN. Dalam sebuah karantina, keduanya dibina dalam tim dan saling bersaing menunjukkan prestasi untuk berlaga di ajang bergengsi internasional. Peningkatan mutu Tentu saja gambaran sukses mikro dunia pendidikan Indonesia itu tak lepas dari grand design pembangunan pendidikan nasional secara makro. Pola pembangunan pendidikan nasional yang berkesinambungan menunjukkan konsistensi pada pemenuhan Rencana Strategis Depdiknas. Kebijakan Ditjen Mandikdasmen yang tertuang dalam tiga elemen dasar benar-benar dijalankan, yaitu Pemerataan dan Perluasan Akses; Peningkatan Mutu, Relevansi, dan Daya Saing; Penguatan Tata Kelola dan Pencitraan Publik. Pada 2009 ini, Ditjen Mandikdasmen memfokuskan pada peningkatan mutu. Namun bukan berarti pemerataan dan perluasan akses dilupakan. Pembangunan SD-SMP satu Atap tetap dijalankan. Pendirian Unit Sekolah Baru dan Ruang Kelas Baru terus digalakkan. Peningkatan mutu, secara berjenjang, dilakukan mulai dari sekolah pra-Standar Pelayanan Minimal, sekolah SPM, hingga Sekolah Bertaraf Internasional. Standardisasi pendidikan nasional juga telah dibuat, yaitu Standar Nasional Pendidikan. Tentu standar ini terkait pula dengan pola manajemen dan pemenuhan kebutuhan sekolah dan siswa. Dari segi manajemen, selaras dengan semangat desentralisasi dan otonomi daerah, diberlakukan Manajemen Berbasis Sekolah. Sekolah diberikan kewenangan luas untuk mengatur dirinya sendiri. Begitu pula kurikulum. Guru bebas menentukan materi pembelajaran sebagaimana tertuang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Faktor penting lain berkaitan dengan standardisasi adalah pengadaan sarana-prasarana yang memadai. Fasilitas sekolah seperti laboratorium dan perpustakaan dibangun. Proses belajar-mengajar berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Kepemilikan sekolah pada komputer bersifat wajib. Upaya lain dalam peningkatan mutu pendidikan adalah pengadaan buku murah. Pemerintah membeli lisensi sejumlah buku mata pelajaran dan masyarakat bebas menggandakannya. Dengan demikian tak ada lagi alasan siswa tidak punya buku, karena harga buku menjadi sangat murah dan terjangkau oleh siswa. Upaya lain yang dilakukan pemerintah dan cukup fenomenal adalah sekolah gratis pada jenjang pendidikan dasar, SD dan SMP. Mulai 2009, pemerintah mengalokasikan dana bagi sektor pendidikan sebesar 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Hal ini memungkinkan terjadinya sekolah gratis, yaitu dengan meningkatkan anggaran Bantuan Operasional Sekolah (BOS). BOS ditujukan bagi SD dan SMP negeri maupun swasta, yang dikelola pemerintah maupun masyarakat—kecuali sekolah Rintisan SBI dan SBI. Sekolah tak boleh lagi memungut iuran dari murid-muridnya. Imbasnya, angka anak putus sekolah dapat ditekan dan orangtua siswa yang miskin tidak punya beban besar untuk menyekolahkan anaknya. Apalagi, program beasiswa terus ditingkatkan dari tahun ke tahun. Jadi, tidak ada alasan lagi anak-anak tidak bisa meneruskan pendidikannya karena kondisi kemiskinan. Integratif Sekelumit penjabaran di atas mengindikasikan bahwa banyak faktor lain yang turut memengaruhi ketangguhan tim olimpiade Indonesia. Bahwa keberadaan tim merupakan hasil dari proses panjang pengembangan dan peningkatan sistem pendidikan nasional. Ketika tim olimpiade dibentuk, sistem baru yang lebih eksklusif dikembangkan dan diharapkan dapat diterapkan dalam pola pendidikan yang lebih luas. Semua pihak harus terlibat dalam pengembangan pendidikan. Partisipasi masyarakat terus didorong. Penghargaan terhadap siswa berprestasi makin ditingkatkan. Maka tak berlebihan jika pemerintah memberikan beasiswa hingga jenjang S-3 bagi siswa yang meraih medali emas di olimpiade tingkat internasional, beasiswa jenjang S-2 bagi peraih perak, dan S-1 bagi pemegang perunggu. Olimpiade berskala internasional menjanjikan supremasi bagi negara pemenangnya. Indonesia sebagai negara terbesar ke-3 di dunia dalam jumlah penduduk memiliki potensi riil gudang siswa berbakat. Potensi anak bangsa ini harus terus digali dan dikembangkan oleh semua pihak, termasuk Ditjen Mandikdasmen yang selalu menyediakan sarana bagi para siswa berbakat untuk mampu bersaing dalam kancah pergaulan Internasional. 1. Asia Mathematics Olympiad for Primary School (Singapura, 24-26 Mei 2008)
2. Po Leung Kuk Mathematics World Contest (Hong Kong, 12-16 Juli 2008)
International Mathematics Contest 2008 (Singapura, 18-21 Juli 2008)
Peraih Medali 5th International Junior Science Olympiad Changwon, Korea, 7-16 Desember 2008
|